Hari ke – 7 puasa Ramadhan 2026. Hampir sepekan aku membatasi akses menggunakan HP. Baik itu share personal status, melihat status teman-teman (maafkan aku ya belum bisa terhubung dengan kalian secara maya) dan aku juga sangat mengurangi melihat berita di sosmed. Begitu tangan ini melakukan tiga kali gerakan jempol untuk scroll segera otak saya mereminder untuk stop. Bukan karena tidak butuh atau apa. Saya mengupayakan selama Ramadhan benar-benar menikmati kehidupan. Ibarat metabolisme, maka Ramadhan inilah saat stop untuk memasukkan kelebihan makanan dan juga informasi. Konsep metabolisme bisa dipakai dirumah juga. Barang masuk maka ada yang dikeluarkan, sama seperti tubuh, ada yang masuk maka jika ingin sehat harus ada yang dikeluarkan.
Begitu juga sistem memasukkan informasi maka harus ada yang keluar dalam bentuk karya. Dan kalau otak masih sibuk trafficnya dan terkoneksi dengan yang tidak seharusnya maka otak sulit bergerak untuk mampu berpikir untuk berkarya. Tak masalah jika saya ketinggalan informasi ataupun istilah istilah kekinian yang menurut saya tidak relevan dengan kehidupan. Anggap saja itu sudah menjadi jalannya.
Ada yang mengatakan bahwa buku klasik yang masih bertahan untuk terus menerus naik cetak bertahan selama 50 tahun kemungkinan yang akan tetap relevan di 50 tahun kehidupan akan datang. Setelah aku pikir benar juga. Itu sebab mengapa Charlotte Mason juga sangat mendukung anak untuk membaca literatur klasik agar kita bisa ‘mengeleminasi’ sampah informasi. Buku saat ini sebenarnya adalah gema dan pembahasan yang di buat mudah hasil dari olah pikir bertahun-tahun lampau. Ibarat buah aseli segar dari pohon dan jus sachet kemasan, mana yang di pilih?
Lalu apa saja yang bisa dilakukan tanpa HP, maka tilawah di perbanyak dan saat ingin istirahat membaca dan menulis adalah salah satu penyegaran lalu tidur, dan juga memasak makan bergizi dan sehat untuk keluarga adalah sangat menyenangkan, karena tiap hari saya usahakan memasak. Dan saat aku menulis saat ini sedang berada di parkiran sekolah, menunggu anak yang pulangnya tanggung, 10.40 sudah pulang. Di tambah cuaca mendung dan hujan bagiku ini suasana yang terbaik sih untuk menulis.
Apa yang aku rasakan adalah sama seperti melihat anak-anak laki-laki yang sibuk bermain bola di lapangan sekolah tanpa peduli cuaca. Mereka terlihat bahagia, tanpa beban. Aku juga demikian. Sepekan menjalanI puasa ini badan dan pikiran terasa plong, segar dan juga tidak terlalu lemas. Saat berbuka kami langsung makan dengan cemilan satu macam, teh hangat atau jus. Setelah itu langsung makan yang rata-rata makanan mengandung kaldu. Setelah aku pikir pikir bisa jadi badan terasa tidak lungkrah karena imun menguat dan juga faktor cuaca jogja yang bersahabat sepekan ini.
Jadi sebulan ini adalah cara kita melakukan re-set dan menyehatkan kembali metabolisme yang kurang sehat di dalam tubuh, pikiran, dan bahkan rumah kita. Bagi ku, memberi tegas batasan adalah pilihan di zaman serba cepat ini. Sehingga saat otak tak terlalu padat traffic maka justru otak akan sangat lancar berpikir.


