Staycation di Villa Klasik – Vibes Rumah Nenek

Alhamdulillaah, setelah masa ‘hibernasi’ sebulan dari bisingnya dunia digital, saya kembali. Ramadhan bulan dimana manusia dikembalikan pada keyakinan sakral akan perintah Tuhan. Dimana manusia diajak untuk istirahat satu bulan dari dua belas bulan dalam setahun. Pelajaran terbesar dari Ramadhan adalah seni mencapai kebahagiaan dengan cara mengurangi bukan menambah. Ramadhan mengurangi makanan, ego, hasrat, serta bagiku proses mengurangi informasi yang ada di kepala. Mengapa? Karena secara statistik, kita sering terjebak dengan ilusi informasi. Bahwa semakin banyaknya kita mengkonsumsi data maka semakin baik keputusan kita. Faktanya tidak. Ibarat saat tubuh kita terlalu banyak makan, yang terjadi perut menjadi sesak dan sering mengantuk juga. Otak pun demikian, saking banyaknya infotmasi kita sampai kebingungan mana prioritas kita. Otak terasa tumpul. Kreativitas mulai stag.

Hadirnya Ramadhan selain bisa menjadi detox tubuh juga detox pikiran. Eksperimen mental ini justru menyehatkan kembali arus idei. Perayaan idul fitri bukan merayakan selesai berpuasa sebulan namun tentang menyuburkan kembali makna ‘niat’. Niat akan lebih baik lagi dibulan berikutnya.

Adanya Ramadhan membangun kembali makna keluarga. Kehangatan disetiap waktunya. Memasak makanan, mengobrol, berbuka bersama. Sungguh membuat hati kita keluarga menghangat.

Di akhir Ramadhan menuju syawal, kesibukan pun berganti menyiapkan hampers buat kerabat. Hampers-hampers yang sebagian aku buat dengan tangan sendiri. Me-recall keterampilan tangan yang pernah beberapa tahun lalu menjadi usaha untuk kembali diseriuskan menjadi usaha rumahan. Kok gencar banget bikin usaha? Karena ini ikhtiar menjadi salah satu sumber dana untuk komunitas perempuan. Insya Allah.

Nah kali ini aku mau cerita, ide liburan saat tak mudik. Banyak alasan mengapa tak mudik. Karena untuk mudik seberang pulau butuh effort yang serius. Agar tak menjadi kelelahan kolektif kami memilih mudik di luar moment lebaran. Berkunjung ke rumah orangtua butuh energi yang besar. Sesampai disana aku dan ortu serta kakak kadang sudah tak sempat banyak deep talk. Apalagi jalan bareng. Karena momentnya adalah kita sibuk menemui tamu.

Maka, pilihan lain mudik vibes kerumah nenek adalah ke villa klasik. Bener-bener kayak rumah jaman dahulu. Villa ini di daerah Magelang. Jadi kita pilih untuk bisa melatihkan anak anak pada sesuatu yang authentic, mendengar jiwa, ngobrol, dan syukur.

Di tengah gempuran gaya hidup yang hedoni, aku dan suami berusahan menitipkan warisan kesederhanaan hidup pada jiwa anak anak. Bahwa martabat dibangun dari kekuatan jiwa, keyakinan akan Iman, keteguhan akan prinsip.

Kami menginap disini daerah kaki gunung sumbing.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *