Perjalanan Batin Menuju Pondok Sufi Kuno: Jejak Tahun 1520

Pondok ini bernama Blagaj Tekija (Tekke) atau Dervish Monastery of Blagaj. Suasana hening, damai, jernih adalah rasa saat kaki ini menginjak area menuju pondok sufi di Bosnia Herzegovina. Di sepanjang jalan menanjak ke arah pondok dibawah tebing kapur yang tinggi, kita akan disajikan aliran sungai dan bangunan tua yang menambah suasana syahdu dan mistik. Pepohonan dengan daun yang berwarna warni, merah, kuning, hijau, dan coklat menambah keindahan wilayah ini. Sekilas seperti berada di sebuah lembah dikelilingi sungai Buna yang sangat jernih berwarna semburat hijau turkish.

Al-Qur’an yang begitu jelas perkatanya, bahkan kata sambungnya.

Aku pun serasa berubah menjadi pengelana di abad ke-16. Mencari kitab untuk dipelajari dan mencari Tuhan di sepanjang perjalanan. Padahal Tuhan tidak kemana-mana. Blagaj Tekke sudah mengalami rekonstruksi karena bencana dan perang. Pemugaran terakhir di tahun 1990, setelah perang Bosnia Herzegovina.

Blagaj Tekke, adalah pusat spiritual sufi. Sederhana dan penuh makna. Mereka tak meninggalkan jejak nama yang tersohor, tak pula sebuah gerakan agama yang ramai pengikut. Pondok tepi sungai ini syarat makna bahwa spiritual tak dibangun di tengah hiruk pikuk, ia menuju tempat yang paling sunyi di dalam jiwa. Sufi identik dengan tarekat yang artinya perjalanan batin. Laku yang mereka jalankan di kehidupan seperti hidup sederhana, makan secukupnya, berbicara seperlunya, dan berdzikir lebih banyak daripada berbantahan.

Saat akan memasuki pondok ada tulisan Hu (huruf Hijaiyah Ha dan Wau) sepanjang jalan. Aku jadi ingat Guru Spiritual ku pun mengajarkan dzikir Hu. Sufi mengajarkan kita akan kebiasaan menyatu dengan alam, bangun sebelum fajar, bermunajat dalam keheningan dan arus sungai yang menenangkan.

Blagaj yang memiliki bangunan dengan cat hitam ini bukanlah sebuah pusat dakwah masal. Jadi jangan bayangkan seperti pondok di Indonesia. Bangunan ini meski sederhana tapi memiliki seni khas klasik. Sentuhan rajut pada sedikit hiasan kain para perempuan juga menjadikan bangunan ini lebih terasa “rumah”. Pondok ini lebih pas kalau di sebut, tempat penyucian jiwa. Jadi dalam tradisi lisan Bosnia, ada kisah bahwa seorang Sufi bisa tinggal bertahun-tahun di Blagaj, lalu pergi tanpa pamit, meninggalkan kamar bersih, tas kosong, dan doa. Tanpa jejak, tanpa drama, karena mereka (para Sufi) tak ingin dikenal sebagai tokoh, tapi lebih kepada mengenalkan jalan.

Tulisan ini artinya Ibu yang Sukses

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah ada Sufi perempuan di Blagaj. Tidak, mereka tak menetap. Para perempuan menjadi murid spiritual, pelantun do’a untuk keluarga, penghapal wirid dan syair serta pelaku dzikir di rumah mereka. Praktek sufisme dilakukan beriringan dengan pekerjaan domestik.

Perjalanan ini aku mencatat beberapa hal diantaranya:

  1. Spiritualitas tak membutuhkan panggung. Sufi mengajarkan pada kita betapa sakralnya kehidupan batin. Namun seiring waktu Sufi melebur pada praktik keagamaan hingga kini. Mereka masih ada.
  2. Tazkiyatun Nafs adalah nafas jiwa kita. Ia terus menerus kita lakukan sepanjang hidup kita. Terlepas dari banyaknya aliran keagamaan. Sufi masih sangat relevan di zaman modern bahkan bisa menjadi jalan keluar bagi jiwa yang kompasnya mulai acak.

Diantara aroma kopi Bosnia tersimpan jejak dzikir para sufi yang mengajarkan kita ketenangan, bahwa alam dan kesederhanaan akan selalu menemani jiwa kita. Jadi meski di zaman modern ini rasanya berat sekali menjadi seorang sufi, namun semoga jiwa kita senantiasa belajar menjadi ‘sufi’ dalam dzikir di keheningan malam.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *