Ya, karena ini blog tentang segala hal tentang klasik, maka tulisan pembuka di awal tahun 2026 adalah tentang prinsip-prinsip hidup klasik/tradisional. Mungkin, beberapa berpendapat, kenapa perlu memandang masa lalu, mengapa tak mempersiapkan masa depan. Justru bagiku, untuk bisa menapak masa depan, kita perlu pelajari ulang tentang makna kehidupan yang sudah ditulis para pendahulu kita. Prinsip-prinsip klasik yang berulang dan terbukti masih sangat relevan untuk kita yang mengaku manusia modern.
Aku juga bukan “si paling klasik”. Aku hanyalah seorang pembelajar yang mencoba menerapkan nila-nilai ini sedikit demi sedikit, meski tentu saja tak selalu mudah. Di tengah gempuran gaya hidup serba instan, mengajak keluarga untuk kembali telaten dan membuat segala sesuatu dari awal juga butuh usaha yang luar biasa. Jujur saja rasanya terkadang melelahkan. Namun, aku memilih menarik napas dalam-dalam agar bisa bernafas di era serba cepat dan destruktif ini.
Bagiku prinsip klasik adalah perangkat mental bagiku agar tak lupa akar, tak lupa dengan gagasan hidup yang membara, serta idealisme yang kian menipis seiring waktu. Maka membahas klasik adalah obat bagi jiwa aku. Terkadang, tantangan terbesar kita adalah tetap waras ditengah rutinitas rumah tangga dan list to do yang melilit hehe. Hidup tradisional bukan berarti hidup sempurna tanpa cacat, melainkan menjaga keseimbangan antara realitas modern dan tetap menyala kompor di dapur untuk makan yang sehat, tetap ada waktu mengobrol di sore hari ataupun masih memegang tanah di akhir pekan.
Berikut beberapa poin praktis yang bisa kita kendalikan sebagai Ibu Rumah Tangga:
- Menghargai keberlanjutan dan keahlian tangan. Di rumah ada beberapa perabotan yang aku pertahankan karena memang dari bahan jati tua, turun temurun dari si Mbah. Memilih perabotan rumah dengan nilai seni dan daya tahan yang lama untuk keberlanjutan. Menghargai proses pembuatan sebuah barang. Misal, mengembangkan keterampilan tangan dasar rumah tangga seperti menjahit, membuat sabun buatan rumah, membuat kerajinan kayu yang sustainable.
- Keterhubungan dengan Alam. Gaya hidup tradisional/klasik sangat terhubung dengan siklus alam. Memulai aktivitas dengan menyesuaikan matahari. Memulai di pagi hari dan berhenti saat matahari tenggelam. Memperindah pagi dengan rutinitas yang dibangun dengan sadar. Tak terburu-buru karena kesiangan akibat tidur kemalaman. Selain itu perlu ada dalam keluarga yakni: a. Sistem Pangan Mandiri b. Pengobatan alami
- Slow Living (kehidupan yang menghayati prosesnya). Kalau ada yang memaknai slow living adalah tinggal di desa, maka rasanya tidak adil bagi kaum urban yang hanya punya tanah di kota. Bahwa bergesernya pemaknaan slow living menyebabkan seolah olah, slow living hanya bisa dilakukan di desa. Padahal saat kita berusaha menerapkan prinsip hidup dengan menghargai proses kehidupan dari hal yang tampak misal membuat makanan dari bahan mentah menjadi siap dimakan. Bukan sekedar makan. Belajar sabar dengan mempersiapkan bahan pangan untuk dimasak lalu bisa dimakan. Membuat aturan tegas di keluarga tentang penggunaan alat technology. Kapan bisa bermanfaat, kapan itu terlihat menjadi ancaman.
- Orang tua Tetap Melaksanakan Pendidikan Rumah. Nilai dan makna kehidupan dikawal orang tua secara aktif. Mengasuh dengan sadar, menjadikan agama sebagai aturan dasar menegakkan moral dan nilai.
- Membangun Kedekatan Melalui Literasi dan Karya. Menghargai sastra, bahasa, dan sejarah sebagai pondasi cara berpikir yang kritis dan terstruktur. Memiliki perpustakaan sederhana bisa menjadi cara kita mengenalkan anak pentingnya buku. Forum literasi keluarga juga perlu di adakan di waktu tertentu.
Menjalani prinsip dan nilai-nilai Ibu Klasik terdahulu memang sebuah perjalanan yang menantang sekaligus mendamaikan. Tulisan ini juga sebagai penguat dan pengingat bahwa menghargai proses adalah cara kita berdamai dengan keadaan.


