The care of the earth is our most ancient and most worthy, and after all our most pleasing responsibility – Wendell Berry
Kalimat yang menguatkan keyakinan kita dalam mengusahakan kehidupan yang menenangkan, yang menolak kehidupan yang serba instan. Bahwa merawat bumi adalah tanggung jawab kita yang paling kuno, paling mulia, dan pada akhirnya merupakan tanggung jawab yang paling menyenangkan, begitulah terjemahan dalam bahasa Indonesia dari kalimat baik di awal.
Inilah tanggung jawab yang menyenangkan walau terlihat ribet. Apalagi bagiku yang tinggal di daerah perkotaan. Akhirnya aku punya kandang ayam. Terharu? Banget, karena keinginan yang sudah lama (bahkan mungkin diawal pernikahan) ternyata doa tanpa sadar itu pun diijabah. Belajar sana sini pelan pelan diwujudkan. Program kembali ke akar itu cukup mudah asal kita memberikan diri kita ruang untuk bernafas. Ruang bernafas kita ternyata bisa ditemukan di halaman rumah yang ditanami sayur, buah, tanaman herbal, serta berternak skala mikro.
Selain mempraktekkan isu ketahanan pangan, ternyata memelihara ayam esensinya yang paling penting adalah melambatkan ritme hidup kita. Terhubung dengan irama alam dan cara kuno sebuah keluarga dan rumah tangga untuk tetap sadar ada sisi hidup kita yang bisa lebih hidup dan melambatkan nafas dengan bersentuhan dengan bumi yang kita pijak, bukan layar yang telah merenggut dan memenjara kebebasan kita.
Sensasi Itu yang bikin tenang….
Ada sensasi magis yang sulit dijelaskan saat kita membidani sebuah proyek kandang ayam untuk keluarga. Dari yang mengatur waktu agar mengusahakan kandang tetap bersih, karena rumah tak hanya digunakan keluarga inti tapi juga ibu-ibu dan anak-anak yang belajar tahsin dirumah. Karena cukup padat lalu lalang muslimah dari senin-jum’at. Aku pun tak luput dari mencari tau cara membuat pakan dan merawat ayam agar tetap sehat sampai sensasi memegang telur.
Ada kebiasaan baru di keluarga kami yakni memantau kandang dan melihat apakah ada telur yang keluar baik pagi, siang, ataupun sore. Ternyata seru juga, hehe. Selain sebuah proyek eksperimen orangtuanya, sebenarnya kami ingin mengajak anak-anak untuk tumbuh bersama menjadikan kandang ayam sebagai ruang belajar alam dan etika yang paling nyata. Bahwa kita secara mandiri bisa mengusahakan makanan yang asal muasalnya diketahui bentuk dan wujudnya. Telur dihasilkan dari ayam yang kita kenal sehari-hari bukan rak swalayan yang anonim. Homesteading bukan hanya tentang produktivitas namun tetap belajar terus cara merawat ayam dengan penuh perhatian.
Tetap hadir…
Berlama-lama di halaman belakang rumah mungkin salah satu menenangkan pikiran dari kewajiban manusia modern. Bahwa bisa memegang telur yang hangat dan segala proses yang menyertai kandang ayam ini adalah sesuatu yang mewah. Maklumlah masih baru punya ayam ya, bahkan aku meliburkan diri dari hobi olahraga padel hehehe. Aku ingin menikmati halaman belakang rumah menjadi ruang kecil kita memahami fakta kehidupan dengan damai. Merawatnya perlahan agar terlihat bersih, rapih, dan menyenangkan. Kita bisa memilih kehidupan yang demikian. Tidak terburu.
Memelihara ayam mungkin terkesan tidak praktis bahkan tradisional atau kuno. Namun, ditengah kebisingan zaman ini, kembali ke akar kehidupan -merawat makhluk hidup dan menyatu dengan alam- adalah kemewahan yang sebenarnya. Mungkin beberapa akan bicara bahwa “jika butuh telur atau ayam tinggal beli, praktis”. Betul, karena bagi masyarakat perkotaan lahan itu tak semua bisa ada. Akhirnya keinginan itu terpendam dan terlupa seiring waktu. Pada akhirnya tergantung pilihan hidup yang bisa kita lakukan semampunya.
Ingatlah sebuah pesan dalam semangat homesteading, bahwa kemandirian (sekecil apapun itu) adalah bentuk kedaulatan diri. -John Seymour dalam buku The Complet Book of Self-Sufficiency.


